14 Mei 2009

KEKUASAAN IKLAN

Dear Journalist,

Iklan adalah sumber pemasukan paling vital bagi sebuah penerbitan pers, baik cetak, elektronik maupun digital (cailah. digital niye....). Jangan anggap sepele. Bagi media cetak, pendapatan dari sektor ini akan bisa menekan ongkos produksi, yang pada akhirnya menyebabkan harga jual bisa ditekan. Penghasilan dari sektor iklan jauh lebih tinggi di atas kemampuan yang bisa dicapai oleh pemasukan dari sektor penjualan per-eksemplar.

Bayangkan. Penghasilan dari sebuah iklan, kira-kira equivalen dengan penghasilan dari menjual sekitar 1000 eksemplar majalah, atau sekitar 10 sampai 20.000 eksemplar suratkabar harian yang untuk mencapai angka penjualan sebesar itu pun harus dilakukan dengan susah payah. Tak aneh, bila Pemimpin Redaksi dan Pemimpin Perusahaan (Manajer Bisnis atau apalah sebutannya) suka mengatakan bahwa penghasilan iklan merupakan sokoguru perusahaan.

Jika Anda sekarang bekerja di media yang punya titik pandang seperti itu, waspadalah. Anda akan selalu direcoki oleh conflict interest antara Manajer Bisnis yang mewakili bagiannya, pengiklan atau biro iklan dan bos Anda -- si pemimpin redaksi. Oke, Anda mengalah, karena posisi Anda. Tapi akibatnya, Anda berdiri di dua dermaga. Sekali tempo menjadi wartawan --memang itu pekerjaan Anda-- dan sekali tempo Anda menjadi seorang account executive dan lebih sering menjadi seorang 'jurnalis pemuja produk', atau copywriter.

Persoalan makin serius bila si pengiklan ternyata lebih vokal, dibanding si manajer iklan, dan bos Anda. Anda tidak lagi punya kebebasan untuk menulis berita tertentu, terutama bila berita itu merugikan klien Anda, kecuali jika menginginkan dia mencabut semua iklan di media Anda. Apakah itu menjadi pilihan Anda?

Lalu bagaimana dengan kami? Kapan Anda sempat memikirkannya?


Salam kompak,
Khalayak Anda