Banyak cerita tidak sempat kuungkap di sini, sejak 29 Agustus, berhubung saya sibuk, dan teramat sibuk. Sibuk apa?
Sibuk mempersiapkan Hari Idul Fitri, soal jualan parcel di internet, yang sudah merupakan tradisi keluarga saya sejak 9 tahun terakhir. Jadi, saya ikut istri ke Makro, Carefour, Giant, WTC dll untuk belanja bahan-bahan parcel. Sesudah itu, barang-barangh itu saya minta dirangkai sedemikian rupa oleh pak Salim, agar layak jadi parcel. Sesudah itu, satu demi satu parcel itu saya foto, saya masukkan ke website. Butuh persiapan 1 bulan lebih sebelum hari H tiba kalau mau dianggap profesional.
Lalu tak lupa saya utak-atik lagi website kami: indoflorist.com, indokado.com dll..... Begitulah, jadi repot. Teman2 tentu saja suka menganggu dengan chatting di YM selagi saya sibuk itu. Ya biar saja.... Toh, memori dan hardisk saya banyak. Jadi sekali kerja bisa dua tiga pulau terlampaui.
Menjelang 2 minggu lebaran, seperti yang sudah diprediksi, pesanan mulai banyak. Mula2 cuma satu dua. Lama2, beberapa perusahaan mengorder. Ringkasnya, laris manis.
Dalam keadaan letih luar biasa, istri mengajak saya menemani kulakan lagi. Sudah dianggap pas, eh, ada tambahan pesanan lagi, jadilah kami kulakan lagi. Jontor deh.
Di tengah2 kesibukan itu saya suka menelpon dan ditelpon oleh Pak Teguh Susila, sohib saya di Purwokerto. Arkian, beliau berhasil menjual tanah seluas hampir 2800 meter persegi dengan harga Rp 1 M. Tanah itu, memang terpaksa dijual, karena, dia harus membayar kewajiban kepada bank. Saya kira dari kasus Pak Teguh ini, banyak pelajaran bisa kita petik.
Pertama, berbisnis itu tidak boleh serakah. Serakah itu menyangkut mentalitas. Sama sekali bukan karena membeli banyak, dan tidak laku. Bukan.
Kedua, kulakan hanya barang yang laku, dan bukan barang yang tidak laku, atau baru diharapkan laku. Karena menurut kredo saya, jika Anda kulakan mestinya karena barang kulakan itu sudah ada yang bakal membeli.
Ketiga, jangan cuma membeli barang karena murah. Buat apa beli murah kalau tidak bisa dijual. Kalau saya pilih beli barang yang laku, jadi bukan soal mahal atau murah. Kalau pun secara nominal mahal pun, selama saya bisa menjual dengan beroleh untung, sudah oke.
Keempat, juga persis dengan kredo saya selama ini, berbisnis itu bukan ditunjukkan hanya bisa membeli barang jualan banyak, tetapi diukur dari seberapa banyak kita punya pembeli/ calon pembeli.
Oya, di tengah bulan puasa, saya dapat 'THR' dari Telkom sebesar 75 juta. Lumayan.... Terus terang saya tidak butuh2 amat. Saya ikut mengajukan kredit UKM itu sebetulnya karena solidaritas belaka. Kata teman2, saya harus ikut, karena saya sudah terlanjur jadi contoh kisah sukses Telkom. Saya sih tetap ragu2. Buat apa? Tahun lalu memang saya tidak ikut, padahal uang sudah siap cair. Tahun ini, apa boleh buat, saya ikut. Eh, dapat lumayan..... Karena kata orangtua, rejeki tidakboleh ditampik, ya saya syukuri.
Libur lebaran pun tiba. Karyawan mudik. Indokado dan Toekangkeboen tutup. Ada saat cari uang ada saat berkontemplasi. Saya dan anak istri langsung cabut ke Bandung. Tidak ada salahnya sekali tempo beristirahat.... Dari kota bunga itu, saya pun melihat perilaku saya selama ini. Ternyata....... ternyata, salah satunya baru disadari bahwa saya sudah tua.... tapi tidak merasa sudah tua, sehingga banyak ucapan saya yang ceplas-ceplos, yang kadang terasa nyinyir, sikap saya yang urakan, yang mungkin membuat banyak teman tersungging, kheki, kecewa dan kesal. Jadi, izinkan sekarang di hari baik ini, saya menghaturkan, Selamat Idul Fitri. Mohon maaf lahir batin................***