Pak SP yang baik,
Hingga tahun 2008 bisnis secara umum dilanda sepi. Tidak hanya tanaman hias, tapi konon juga komoditi lain. Saya menulis di TRUBUS (Juli 2008), masalahnya ada di daya beli yang merosot tajam. Tapi blessing in disguise. Selalu ada hikmah di balik musibah. Selama kurun itu kita ternyata bisa belajar tentang banyak hal.
Salah satunya, akibat tanaman tidak (cepat) laku, maka kita tiba-tiba ‘’disuruh’’ menjadi perawat tanaman dengan harapan tanaman itu akan tumbuh besar dan beranak pinak. Ringkasnya kita menjadi petani, dan harus memelihara sejumlah tanaman. Karena bukankah kita adalah pecinta tanaman?
Tanpa sadar kita pun mulai berandai-andai. Tiara, atau Hot Lady kita yang berjumlah 10 pot, mungkin pada suatu hari –jika tanaman-tanaman itu diberi panjang umur tentunya—maka jumlahnya akan bertambah dua-tiga kali lipat karena tanaman itu akan beranak pinak. Perasaan kita pun melambung membayangkan kalau pada saat itu harga tanaman itu makin mahal, atau sedikitnya ajeg. Tapi bagaimana kalau harga turun? Atau malah tidak lagi dikerling orang?
Pak SP,
Dulu saya beranggapan bahwa tanaman punya daur ulang. Keyakinan saya berangkat dari kenyataan bahwa ragam hayati kita sangat kaya, dan tidak akan pernah ada tanaman yang baru lagi sejak zaman Adam. Sehingga tanaman-tanaman itulah yang akan berputar-putar terus, tergantung ada-tidaknya kebutuhan masyarakat. Tapi maaf, saya sekarang meralat pendapat itu..
Ternyata belakangan saya menyadari, banyak tanaman yang nilai intrinsiknya bisa tiba-tiba terpuruk ke titik nadir. Tidak usahlah saya menyebut nama, kerena kuatir akan membuat pengagumnya tersinggung. Yang jelas, kita tahu bahwa tanaman-tanaman itu dulu pernah memiliki pamor yang bagus dan punya nilai yang tinggi tapi kini akibat populasi yang tak terkendali dan perubahan selera masyarakat, tanaman-tanaman itu tidak memiliki nilai jual lagi.
Adakah tanaman yang sedang kita rawat dengan susah payah ini akan memberi arti bagi kita di kemudian hari? Apakah kita cukup terhibur hanya karena kita menganggap diri sebagai seorang pecinta tanaman, sekalipun kita tahu nilai instrinsiknya sudah jatuh ke titik nol?
Belum lama ini saya bertelepon-ria dengan seorang kenalan di Parakan, Pak Congyan. Dia kolektor, penggemar aglaonema dan anthurium. Koleksinya banyak, dan praktis hanya yang terbaik yang dia punya. Ketika pembicaraan menyentuh ke masalah perkembangan harga aglaonema dan anthurium yang kini merosot, nada suaranya pun tampak berubah. Saya coba menghibur dengan mengatakan, bahwa baginya tentu harga merosot tidak masalah karena toh dia tidak akan berniat menjual lagi. Tapi apa jawabnya? “Yah…. kalau harga di luar merosot, saya tentu jadi tidak bersemangat lagi…”
Apapun yang terjadi saya berharap Bapak tetap semangat. Karena itulah ‘harta’ kita yang berharga saat ini.
Salam,
KJ
(Ditulis khusus untuk TABLOID HIAS SAMARINDA)