Sajak Kurniawan Junaedhie
- maria
Sesudah masa penantian yang panjang
Akhirnya Tuhan pun kasih kita pasangan
Yang bikin kita kerasan di rumah
Yang bikin kita selalu jadi pahlawan
Yang bikin kita menangis saking gembira
Yang bikin pasrah saat hidup susah
Yang bikin kita ketawa, saat frustrasi
Supaya hidup yang susah jadi senang
Supaya hidup yang berat diringankan
Supaya menghadapi setiap cobaan tetap dikuatkan
Supaya menghadapi pujian tetap direndahkan.
Sekarang, kita pun tak sendiri lagi
saat makan, saat tidur, atau ketika bangun pagi
Bahkan ketika cemas menghadapi ujian dan pekerjaan
dan merasa menjadi orang paling sialan di dunia
kita sekarang punya teman tempat kita selalu berbagi
Yang membuat kita tak merasa lagi dikucilkan semesta
Lalu hati kita dibuat jadi samudera
lebar dan lapang tanpa batasnya
Agar sambil menampung kesabaran
kita bisa merasa tengah berenang di lautan
sementara di sekitar, ribuah piranha menganga
Ah, enaknya menyelam ke lubuk kehidupan
Begini rupanya cara alam menghibur kita.
Lalu satu demi satu tanggalan rontok
Matahari dan rembulan memadamkan lampunya
Dan kalau Tuhan izinkan
Ia pun akan kasih kita momongan
supaya rumah kita tambah ramai
Dan kita sendiri akan jadi ayam atau angsa
yang pintar bikin hangat tubuhnya
Hanya adakalanya memang, hidup penuh luka & kecewa
Adakalanya pula kita saling berpaling,
Tapi disaksikan langit
Kita niscaya tetap setia
Berjalan melampaui zaman demi zaman
Menuju ke barat timur selatan dan utara
Memenuhi panggilan semesta
Dengan kasih sayang berkarung-karung jumlahnya
Jakarta, 14 Februari 1995.
Catatan: Puisi ini saya tulis untuk Maria persis di Hari Valentine tahun 1995, jadi hampir 13 tahun lalu. Ternyata isi dan makna puisi ini --meski saya anggap jelek karena terlampau prosais-- bisa bertahan oleh waktu. Di rumah kami, puisi ini sengaja saya bingkai dengan piguran warna merah jambu. Tergantung di dinding kamar yang tidak kami tempati dan berdebu. Sering kami menemukan pigura berisi puisi ini. Tapi sering terlupa membacanya, bahkan mungkin lupa isinya. Beberapa hari lalu saya iseng membacanya, dan tengkuk saya merinding. Saya lalu berjanji akan mengabadikannya di blog. Semata supaya saya, dan Maria bisa membacanya berulang-ulang kalau umur panjang. Paling sedikit, anak-anak kami, Ayi dan Ela tahu, ayahnya cukup romantis juga. Syukur-syukur, itu membuat mereka jadi bangga.