



Tanggal 22 Desember hingga 27 Desember kami jalan-jalan liburan ke Pulau Dewata, sesuai janji saya dengan anak-anak. Kami menumpang pesawat Adam Air dari Jakarta, pukul 06.45 WIB menempuh perjalananan selama hampir 1,5 jam, dan seperti biasa sampai di sana waktu bertambah satu jam. Begitu mendarat di Bandara Ngurah Rai, kami sudah dijemput oleh sopir langganan, Pak Made dengan mobil Taruna-nya. Karena masih kepagian, kami tidak langsung check in di Hotel Grand Rama Kuta, tapi langsung jalan2 dulu ke Pasar Seni di Kuta, Nusa Dua dll, baru sore hari kami check in.
Sorenya, kami keluar lagi untuk makan2. Selama hampir sepekan, banyak yang kami lakukan di sana. Tapi karena ini perjalanan kami untuk ke sekian kali ke sana, kami sekarang lebih selektif memilih acara yang favorit2 saja. Misalnya ke Ubud, melihat dan membeli lukisan.
Sialnya, selama kami ke sana, Bali diguyur hujan terus-terusan. Jadi banyak program yang gagal, antara lain: anak2 tak bisa main atau berjemur sambil dipijat, atau di- manicure atau pedicure, bikin kuncir rambut, atau tatoo di Pantai Kuta (Pantai Kuta penuh dengan sampah). Kami juga gagal makan babi panggang khas Bali (tempatnya kecil, selalu penuh dengan turis Taiwan atau Korea dan harus mau kehujanan) di Ubud. Sebagai gantinya kami diajak Pak Made ke Warung Johny, di sekitar2 situ, tapi aduh mak, harganya mahal pisan.
Kami pulang naik Adam Air, pukul 18.45 WIT. Cuma satu jam perjalanan, karena waktu di Jakarta mundur satu jam. Hapid, sopir kami sudah menjemput di pintu exit. Seperti biasa, kopor kami beranak pinak. Over weight.
Sorenya, kami keluar lagi untuk makan2. Selama hampir sepekan, banyak yang kami lakukan di sana. Tapi karena ini perjalanan kami untuk ke sekian kali ke sana, kami sekarang lebih selektif memilih acara yang favorit2 saja. Misalnya ke Ubud, melihat dan membeli lukisan.
Sialnya, selama kami ke sana, Bali diguyur hujan terus-terusan. Jadi banyak program yang gagal, antara lain: anak2 tak bisa main atau berjemur sambil dipijat, atau di- manicure atau pedicure, bikin kuncir rambut, atau tatoo di Pantai Kuta (Pantai Kuta penuh dengan sampah). Kami juga gagal makan babi panggang khas Bali (tempatnya kecil, selalu penuh dengan turis Taiwan atau Korea dan harus mau kehujanan) di Ubud. Sebagai gantinya kami diajak Pak Made ke Warung Johny, di sekitar2 situ, tapi aduh mak, harganya mahal pisan.
Kami pulang naik Adam Air, pukul 18.45 WIT. Cuma satu jam perjalanan, karena waktu di Jakarta mundur satu jam. Hapid, sopir kami sudah menjemput di pintu exit. Seperti biasa, kopor kami beranak pinak. Over weight.